Cerpen: Keadaan Yang Tak Menentu

Bookmark and Share

oleh Andank Slankers pada 25 Mei 2012 pukul 14:50 ·

Semenjak kami saling mengenal, setiap hari Kamis ketika dia libur kuliah dan aku juga sedang tidak ada kuliah, kami sering menghabiskan waktu bersama, bisa dirumahku, kadang kami menjaga warungnya berdua. Dengan kegiatan bersama dia, yang kami paling suka adalah duduk berdua sambil bercerita keluh kesa dalam keseharian.
Petang ini, dari jendela kaca kamarku dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil melintas depan rumah dan berhenti di rumah kosong seberang rumah nomor dua. Ternyata bukan hanya sebuah mobil saja yang melintas ada 2 mobil menyusul dari belakang. “Ah, ngapain mobil truk Mitsubishi kerumah kosong itu” atau meletekan material untuk merenovasi rumah tersebut? Setau ku rumah itu tak dihuni sejak lama, terlihat banyak rumput liar tumbuh disekitarnya. Setelah beberapa menit berselang terlihat dari kaca jendela kamar, membuka pintu mobil dan keluar seorang lelaki paruh baya dari mobil Honda Freed menuju pintu supir truk didepannya. Dari kejauhan, tampak lelaki itu sedang memberikan intruksi pada sang supir untuk menurunkan muatan kerumah tersebut. Lama aku mengintik dari jendela kaca kamar akhirnya mendapat jawaban dari pengintipan itu bahwa orang itu pasti akan menempati rumah tersebut. Karena di komplek ini saat malam bernuansa sepi, maka banyak bapak-bapak keluar dari rumah masing-masing untuk memastikan apa penyebab kebisingan yang terjadi menjelang malam pekat.

Aku mulai asyik mengintip dijendela kamar, dua menit kemudian telepon genggamku berdering diatas meja sudut kamar tanda ada sebuah pesan sms masuk. Dari seberang rumah, Ani bertanya ada kejadian apa diluar. Memang Ani jika sudah larut malam tidak diperbolehkan keluar kamar oleh orang tuanya untuk menjaga santun keluarga. Ia mulai binggung setelah aku jawab bahwa ada orang yang akan menempati rumah nomer E6 padahal rumah E6 sudah lama ditinggal pergi oleh pemiliknya meski masih kokoh berdiri. “sudah lah mari kita tidur, semoga mimpi indah” dalam pesan sms yang aku kirim padanya. Jendela kamar mulai tertutup, lampu kamarpun sudah mati aku mulai rebahkan tubuhku dipembaringan.

Keesokan harinya, suara ramai mulai terdengar diseberang rumah. “biasanya tak seperti ini, apa mungkin...?” mencoba melihat apa yang terjadi. Benar saja dugaan ku tadi malam, tampak dari jendela kamar banyak orang sedang membersikan dan menurunkan barang-barang dari truk yang tadi malam tak beranjak sedikitpun dari tempatnya tadi malam didepan rumah E6. “ASTAGA..” aku terkejut oleh ulah jail Ani yang mengagetkanku dari sebelah jendela. Ia tertawa seperti biasa setelah mengetahui ulah jailnya berhasil. Ani mulai masuk kamar dan mulai membersihkan kamarku, meski telah kularang tetep saja ia melakukannya, perhatian yang lebih dari sekedar teman, sedang aku beranjak membersihkan diri di kamar mandi.

Selesai mandi, kami bercerita tentang rumah E6 yang menjadikan pikiran kami penasaran. Kata bapak ani rumah itu akan dihuni kembali oleh pak Efendi kembali, tapi hanya anaknya saja yang akan menempati untuk melanjutkan kuliahnya setelah dipindah dari Makassar ke kalimantan. Dulunya pak Efendi adalah seorang pengusaha toko komputer yang sukses disini tutur ani melanjutkan cerita, karena sukses, mulailah pak Efendi mengelola usaha dikota lain, belum tiga bulan usaha di kota Makassar ternyata dinilai sudah maju maka seleuruh keluarga yang ada disini diboyongnya ke Makassar. Aku hanya melonggo mendengar cerita ani.

“Ayo kita kerumah pak Efendi” ajak ani. aku hanya membuntuti ani dari belakang menuju rumah pak Efendi. Sesampai diseberang ani menyapa pak Efendi dengan ramah.

“ini Ani ya? Udah gede ternyata kamu dulu masih kecil banget, kuliah dimana?”

“iya. Mana Nita Om”

“itu didalam, masuk aja ni. Dia ada di kamar, wah sama pacar nih”

“bukan Om, ini temen. Dia mengontrak diseberang itu” jelas ani.

Kami mulai masuk kedalam. Dengan perasaan malu aku mulai mengikuti ani menuju kamar samping, kamar bernuansa pink yang sangat khas kamar perempuan ditambah dengan banyak boneka Angry Birds tersusun rapi disamping TV berukurang 29 inci. Aku kanget melihat sesosok perempuan dengan kulit putih dengan rambut panjang dan wajah yang sangat cantik menyapa Ani. dia lah anak dari Pak Efendi yang akan menempati rumah ini. Aku mulai dikenalkan oleh Ani kepada Nita, ternyata namanya Nita nur efendi. Dia akan melanjutkan kuliah semester 2 dijurusan komputer. “wah sejurusan nih, dapat temen cantik lagi” pikiranku buyar kemana-mana setelah berkenalan dengan Nita, serasa mendapat cahaya terang dari kegelapan malam.

Lama kami betiga mengobrol. Dia bercerita bahwa ingin kembali kesini karena kangen dengan suasana kalimantan dan ingin melanjutkan studi yang sama dengan ku.

“ton, gimana kuliah disini? Enak aja kan?”

“enak gimana, banyak banget tugas menghantui ku. Tapi kalo ada kamu hantu-hantu itu pergi kok” rayu ku. Awalnya kuperhatikan Nita adalah sosok perempuan idaman, ditambah dia kaya dan baik hati tapi Ani telah lama menyukai ku dari perhatiannya selama ini. Aku mulai bimbang dengan keadaan yang tak menentu.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar